Kita dan Barang-barang
Bapak, Ibu, dan Saudara yang kurang kerjaan sehingga ada waktu untuk online dan bertandang kemari. Saya tidak sedang menawarkan barang. Jangan keburu menutup pintu hati.
Kita tak dapat menghitung pasti berapa banyak barang yang kita miliki. Kadang kita sendiri tak yakin apakah betul-betul memerlukannya. Karena murah, dan kadang lumrah, kita dengan enteng membelinya. Lebih syukur lagi kadang kita memilikinya karena diberi.
Setelah memiliki, sebagian dari kita malah lupa di mana menaruh barang-barang itu sehingga ketika kita memerlukannya malah tak tersedia.
Sebagian orang, karena sadar bahwa dirinya tidak betul-betul memerlukannya, tidak akan membeli ini dan itu. Meminjam, bila perlu tak usah mengembalikan, adalah cara paling praktis.
Sebagian kecil lain, karena merasa sangat membutuhkan barang tertentu, di mata orang lainnya lagi bisa terkesan sangat konsumtif dan memberhalakannya.
Hidup kita memang dikitari barang-barang. Mungkin itu yang membedakan manusia dengan makhluk lainnya yang hanya mengandalkan apa yang tersedia di alam. Bandingkanlah dengan menanya berang-berang.
Kita merasa memerlukan barang-barang, apalagi jika berwujud peralatan. Sekecil dan sesepele apapun itu adalah buah peradaban. Teknologi, pada tingkat yang paling sederhana sekalipun, merupakan perpanjangan tangan, kaki, dan indra manusia. Tapi ada sisi konyolnya: sebuah barang harus kita miliki untuk mempermudah kita memakai barang lain. Pembuka tutup botol harus ada supaya isi botol bisa kita ambil tanpa memecahkan beling.
Kita dan barang-barang. Urusan ginian bisa merepotkan bahkan kadang bikin berang dalam kehidupan bareng.
Salam,
Paman Tyo
blogombal