[ View menu ]

Karet Gelang Sipatugelang

karet gelang

Tak jelas sejak kapan barang ini ada. Kayaknya sih begitu saya mengenal barang, karet gelang sudah ada. Siapa yang menemukan, eh menciptakan?

Penyebutan “karet gelang” pun menarik. Karet ini bisa dijadikan gelang, setidaknya untuk sementara sampai kemudian terpakai. Kalau dipakai terlalu lama, apalagi diameter karetnya ngepas, maka akan menggigit pergelangan kita.

Waktu saya masih kecil, dikenal dua macam karet gelang. Yang pertama berbahan kasar, mirip karet betulan, warnanya cenderung kusam. Yang kedua lebih liat, berwarna bening, sehingga orang-orang menyebutnya sebagai “karet pentil”.

Baca “pèn-til”. Kalau “pêntil” (Jawa: pên-thil), itu berarti puting atau nipple. Pentil adalah katup selongsong untuk dop ban sepeda. Biasanya memang berbahan karet bening.

Nah karet gelang ini, kalau direndam dalam minyak tanah, akan melar. Saya pernah melakukannya, sekadar mengikuti anjuran teman-teman. Apa manfaatnya? Nggak ada.

Anda pasti membutuhkan karet gelang untuk mengikat bungkus atau menggabungkan benda. Tapi kapankah terakhir kali Anda membelinya? Harga sekantong karet gelang, entah berapa isinya, sekitar Rp 5.000. Saya belum menimbangnya. :D

Ini jenis barang yang tak perlu kita beli. Kalau hanya butuh satu-dua meminta tetangga atau warung pun akan diberikan. Selebihnya kita akan menyimpan karet gelang yang kita dapatkan saat membeli barang, kemudian kita simpan, lalu kita pakai lagi. Praktis. Hemat.

Entahlah apakah anak-anak sekarang masih bermain karet gelang. Dulu bocah-bocah bermain “ganjilan” (Jawa), dengan melemparkan setumpuk karet gelang ke sebuah bidang sempit, misalnya sudut bawah pilar bangunan sekolah.

Anak-anak perempuan dulu juga sering bermain “springen” dengan jalinan karet gelang yang menyerupai rantai. Ukuran ketinggian untuk anak-anak perempuan di Jawa Tengah antara lain “sak-dheng” (”sakdhengkul“, sedengkul, selutut), “sak-ud” (sakudel, setinggi pusar) dan… “sak-tem” (maaf… “saktempik“, setinggi kemaluan perempuan).

Kebanyakan orangtua tak menganggap ukuran macam itu saru atau jorok. Cowok-cowok juga menganganggapnya wajar, dan tak perlu bikin tandingan ketinggian, nyuwun sewu, “sak-kon“.

kantong karet gelang

4 Comments

  1. mpokb says:

    yg juga direndam minyak tanah (jaman minyak tanah belum langka :P) itu bola bekel. jadi besuaar dan empuk. kalo di sekolah aye dulu, ukuran ketinggiannya jongkok, lutut, pipis, pinggang, dada, kuping, terakhir merdeka :)

    Friday 14 September 2007 @ 10:42:53

  2. bangsari says:

    “Kebanyakan orangtua tak menganggap ukuran macam itu saru atau jorok. Cowok-cowok juga menganganggapnya wajar,”

    apa karena pengaruh internet, sehingga imajinasi orang sekarang menjadi lebih jorok?

    Monday 24 September 2007 @ 10:58:21

  3. melly says:

    kalo beli 500 perak, dapet segembrengan, yang lebih tebel lebih mahal, buat maen loncat tinggi. kalau buat maen sprintrong yang tebel enak, lebih manteb.

    iya ya, masih ada yang maen gitu gak ya?

    Friday 28 September 2007 @ 16:52:47

  4. d says:

    kalau karet gelung..?
    bisa juga khan pak puh

    Monday 8 October 2007 @ 15:00:49

RSS feed Comments | TrackBack URI

Write Comment

XHTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>