Pita Meteran: Ketika Jengkal tak Bisa Diandalkan

Meteran gulung yang bisa dicantelkan ke tali pinggang. Haruskah setiap rumah tangga memilikinya?
Kita menganggapnya sebagai peralatan tukang. Kalaupun kita ke toko mebel, orang toko biasanya sudah menyediakan.
Bahwa perabot yang kita beli ternyata bikin sesak ruangan, kesalahan jangan kita timpakan pada meteran. Salahkanlah kemampuan spasial (keruangan) kita dan dayan tahan kita menghadapi sugesti pedagang.
Waktu saya kecil, tukang kayu dan bangunan malah memaki mistar lipat. Bisa saja presisinya jadi meragukan. Tapi nyatanya rak buku ayah saya dulu tetap tegak, tidak jonjing menuntyit ganjal, dan tidak ambruk.
Tapi urusan apa saja sih kita butuh presisi pengukuran metrik dengan toleransi nol, sehingga sekecil apapun kesalahan paralaks adalah dosa?
Saya tak tahu bagaimana Candi Borobudur, piramida, dan bahtera Nabi Nuh dulu dibangun. Pengukur apa yang dipakai? Punya siapa?
Silakan tertawa, kadang saya masih menggunakan jengkal. Seberapa persis panjangnya saya tak mengukur, tapi saya tahu lebih dari 20 cm.
Depa? Saya jarang pakai. Jangan-jangan Ernest Neufert pernah menggunakan bentangan depa. Atau malah menggunakan bentang siku sampai pergelangan untuk mengukur lingkar pinggang celana.
Saya juga penasaran bagaimana Leonardo da Vinci bisa mendapatkan ilham untuk menggambar Dimensi Manusia Merujuk Vitruvius alias Manusia Vitruvian.
Meteran tukang kini jadi barang biasa. Malah ada yang bercangkang plastik, dengan paduan warna ala Benetton. Yang digital masih mahal, tidak bisa bunyi srekkkkkkkkkkkkkk….
hehe, kalo beli celana kebiasaan ngukur pake siku juga..
siapa yg nemu cara itu yak? tapi, setelah itu sih tetep aye coba di kamar pas..
Sunday 20 August 2006 @ 09:15:18
Kalau beli celana ngukur pake siku,
Mau masuk SD suruh pegang kuping kiri pake tangan kanan tapi lewat ubun-ubun.
Wednesday 23 August 2006 @ 13:00:57
waktu masih kecil, sama babeh saya gak boleh ngukur tinggi badan pake meteran spt itu. Alasannya umur bisa pendek. Nyambung di mana ya????
Wednesday 23 August 2006 @ 15:49:49
saya punya om! hehe.. beli di gelaran pameran buku, di teras gedung ada yang jual paketan. jadilah saya punya seperangkat kunci berbentuk T dan meteran. Sayang saya gak punya pensil merah gedhe itu, biar lengkap jadi tukang.
Wednesday 27 September 2006 @ 11:12:34
hehehehe masi pake jengkal kalo beli kaos oblong. meteran yang ini, sering saya pake buat ngukur tinggi badan kalo lagi iseng di rumah. sreeek sreeekk sreeekkk.
Monday 9 October 2006 @ 08:47:12
[...] Seberapa kita akrab dengan mil, pun depa, yang pasti bukan metrik, itu bukan soal. Hasan Sejutapuisi Aspahani bisa menjelaskan. Kalaulah itu bukan puisi, Hasan pula yang bisa memberi jawab — melalui puisi pula. [...]
Tuesday 10 October 2006 @ 15:06:56
Wuekekek ..
alat begituan ma banyak di rumah. ada yang 3m, 5m, 10m, 25m wuekekekek …
Friday 13 October 2006 @ 12:22:59
untuk di tas gw selalu bawa penggaris metal 20 cm……, dan kayaknya gw lagi berminat beli alat ukur dari inframerah
Monday 16 October 2006 @ 17:08:21
Thanks for information.
many interesting things
Celpjefscylc
Saturday 12 January 2008 @ 14:56:46